TI dan pakar TI
Berawal dari tulisan Bernaridho di Sinar Harapan (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0409/16/ipt02.html), berlangsung diskusi hangat di milis technomedia membahas mengenai TI (Teknologi Informasi). Artikel ini menarik. Apa sebenarnya TI ? Ternyata tidak semua orang memiliki persepsi sama tentang TI. Kesalahan umum yang sering saya lihat, adalah menyamakan TI dengan internet, atau telekomunikasi. Padahal internet, telekomunikasi hanyalah satu bagian saja dari TI. Mungkin karena internet adalah fasilitas TI populer yang paling merakyat, sehingga awam cenderung mengidentikkan TI dengan internet. Seseorang yang ahli dalam memakai internet, atau lebih luas lagi, ahli dalam telekomunikasi, cenderung disebut pakar TI. Apakah hal ini tepat ? Apa sebenarnya TI ? Bagaimana seseorang bisa disebut pakar dalam suatu bidang ? Kriteria apa saja yang perlu dipenuhi, agar seseorang dapat menjadi pakar dalam suatu bidang ? Pembahasan mendalam seperti ini mungkin tidak terlalu menarik bagi kebanyakan orang.
Sebaliknya kalau saya ditanya, bagaimana definisi TI menurut anda ? Saya perlu waktu cukup lama untuk memikirkannya. Saya coba fikirkan mendalam, dari pendidikan saya yang sejak S1 sampai S3 berbackground electrical & computer engineering. Apa sebenarnya TI, dan apa saja bagian dari TI ? It is not easy to answer such a simple question.
Ada beberapa definisi mengenai TI. Satu diantaranya, yang saya rasa cukup representatif adalah sebagaimana dimuat di Oxford Advanced Learner's Dictionary. Di situsnya, disebutkan demikian : The study or use of electronic equipment, especially computers, for storing, analysing and sending out information. (URL: http://www.oup.com/elt/oald/)
Dengan demikian, TI meliputi unsur-unsur : "storing", "analysing", "sending out" suatu informasi. Kalau diurai lagi, masing-masing unsur akan bercabang ke puluhan fields, baik yang berkaitan dengan hardware maupun software, seperti electronic circuit, electromagnetic wave, database, datamining, pattern recognition, signal processing, telecommunication, security, information theory, compiler, data structure & algorithm, software engineering, dsb. Kalau kita tanya lagi "informasi apa yang diolah", akan berakar ke cabang keilmuan seperti : image processing, bioinformatics, neuroinformatics, biometrics, computer vision, computer graphics, dsb. Tidak mudah bagi saya untuk membuat batasan aspek-aspek dalam TI.
Ilmu pengetahuan bersifat dinamis, tidak statis, menyesuaikan dengan needs dan interest industri dan akademis dari masa ke masa. Cara termudah melihat perkembangan suatu bidang adalah dengan mencermati tema-tema yang dipresentasikan di international conference dan journal. Misalnya untuk bidang TI, tahun depan di Las Vegas akan diselenggarakan Int'l Conference on Information Technology (http://www.itcc.info/). Di CFP-nya, saya lihat topics of interest meliputi : Information Retrieval, Operating Systems, Networks, Image/Video Processing, Digital Library, Coding & Data Compression, Watermarking, Simulation, Computer Graphics, Information Technology: Education, Curriculum & Accreditation, Information/Website Security, Data Mining dsb. Tema-tema ini mencerminkan interest penelitian pada masa kini. Beberapa di antara tema tsb. sudah ada sejak puluhan tahun yll. seperti image processing, data comprssion. Beberapa di antaranya baru muncul atau populer akhir-akhir ini seperti datamining, bioinformatics, dsb.
Contoh lain adalah munculnya journal-journal baru IEEE. Tahun ini computer society IEEE menerbitkan journal baru : IEEE/ACM trans. on Computational Biology and Bioinformatics. Ini dikarenakan perkembangan yang pesat di bidang bioinformatika dan keterbatasan kesempatan publikasi pada journal yang ada. Sehingga diperlukan media baru untuk mendokumentasikan ide dan temuan yang berkembang dewasa ini.
Ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa berkembang. Definisi dan aspek-aspek di dalamnya tidak pernah statis, melainkan dinamis, mengikuti perkembangan peradaban manusia.
Salah satu point yang dipermasalahkan oleh Bernaridho adalah sebutan "pakar TI". Menurut artikel tsb., syarat seseorang disebut pakar adalah penguasaan aspek TI, baik software maupun hardware. Selama di Jepang, saya tidak pernah mendengar seorang professor disebut "pakar TI". Yang sering saya dengar adalah professor Iwata adalah peneliti di bidang neural networks, professor Usui adalah peneliti di bidang neuroinformatics, professor Toriwaki adalah salah seorang pioneer (sering juga disebut daiichinin sha = number one) di bidang medical imaging, tapi tidak pernah saya dengar seseorang disebut pakar TI. Bagi saya sulit untuk membayangkan keahlian apa saja yang dimiliki oleh seseorang bila disebut pakar TI. Ada satu yang masih belum jelas bagi saya : Bernaridho memakai kata-kata : "penguasaan". Bagaimana definisinya secara kuantitatif, seorang disebut "menguasai" ? Mungkin ini dikarenakan saya terbiasa dengan hitungan gyouseki/prestasi capaian di dunia akademik. Di kampus saya, journal dihitung 1 point, peer-reviewed international conference dihitung 0.5 point, kalau tanpa review, tidak akan dihitung. Biasanya publikasi di computer science rata-rata 8 halaman. Kalau kurang dari 4 halaman, tidak akan dihitung.
Dalam syarat pengajuan degree, kontribusi kandidat doktoral dihitung dengan cara tsb. di atas. Misalnya dulu saya disyaratkan memiliki minimal 1 journal dan beberapa international conference publication. Sedangkan rekan saya yang di jurusan biotek, disyaratkan 3 journal. Beda jurusan beda syaratnya. Dalam satu jurusan kadang juga berbeda syarat, tergantung professornya. Ada juga rekan yang tidak memiliki publikasi journal, tapi kontribusi ybs. diakui dari beberapa publikasinya pada international conference. Prinsipnya, menurut aturan monbukagakusho (P&K Jepang) kriteria seorang lulus S3 adalah kemampuan untuk melakukan riset secara mandiri. Sedangkan publikasi di atas adalah "bukti"-nya.
Kembali pada kalimat Bernaridho, saya kesulitan untuk memahami pada kata "menguasai". Bagaimana kita mengukur kontribusi seseorang pada suatu bidang agar disebut "menguasai". Kriteria apa yang digunakan ? Apakah jumlah publikasi, atau pengaruh dari publikasinya yang diukur dari citation rate, ataukah dalam bentuk pengakuan dari organisasi resmi, seperti Fellow Membership dari IEEE, IEICE, dsb. ? Saya cenderung pada pilihan terakhir, yaitu "fellow" yang diberikan oleh society ilmiah tsb. karena kontribusi ybs. diakui secara resmi oleh lembaga yang berkompeten. Tapi kalau dicermati, fellow IEEE tidak ada yang menyebutkan kontribusi ybs. di bidang "information technology". Melainkan pada cabang dari IT, misalnya "contributions to machine learning, pattern recognition, and data compression." CMIIW
Yang pasti untuk menjadi pakar dalam suatu bidang tidak harus berangkat dari jurusan yang mengasah bidang tsb. Seorang pakar software engineering tidak harus memiliki latar belakang pendidikan informatika. Penelitian bersifat universal dan boleh dilakukan siapa saja. Pengakuan akan kontribusi seseorang ditentukan bukan berdasarkan latar belakang pendidikannya, melainkan kontribusinya. Saya lihat tokoh-tokoh di bidang neural networks, tidak selalu berasal dari jurusan elektro atau komputer. Professor Sunichi Amari (tokoh terkemuka neural network society, presiden IEICE) berasal dari jurusan fisika. Professor Toriwaki dulu background penelitiannya saat S2 melakukan penelitian di bidang character recognition. Baru pada saat S3 melakukan penelitian medical imaging, dan mulai saat itu dikenal sebagai tokoh Jepang di bidang tsb. dan sering kamii sejajarkan dengan Rosenfeld. David Goldberg dikenal sebagai tokoh besar di bidang evolutionary computing, dan buku dan karyanya tentang GA mendapat pujian dari John Holland, yang semula skeptis terhadap potensi Goldberg. Padahal Goldberg adalah lulusan Teknik Sipil. Bukunya Genetic Algorithms in Search, Optimization and Machine Learning (Addison-Wesley, 1989) adalah buku dengan frekuensi citation no.4 di bidang computer science.
(http://www-illigal.ge.uiuc.edu/goldberg/d-goldberg.html#biography)
Tidak mengapa seseorang berlatar belakang pendidikan sosial, bahasa, antropologi melakukan penelitian atau mengemukakan pendapat mengenai teknik, vice versa. Yang penting, mari kita cermati dengan objektif, apakah argumen ybs. dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah ? Kalau toh salah, mari kita diskusikan dengan kepala dingin, karena kita semua pada hakekatnya sedang belajar. Dan seringkali kesalahan dan kegagalan yang kita perbuat adalah batu loncatan untuk menggapai kemajuan.
Sebaliknya kalau saya ditanya, bagaimana definisi TI menurut anda ? Saya perlu waktu cukup lama untuk memikirkannya. Saya coba fikirkan mendalam, dari pendidikan saya yang sejak S1 sampai S3 berbackground electrical & computer engineering. Apa sebenarnya TI, dan apa saja bagian dari TI ? It is not easy to answer such a simple question.
Ada beberapa definisi mengenai TI. Satu diantaranya, yang saya rasa cukup representatif adalah sebagaimana dimuat di Oxford Advanced Learner's Dictionary. Di situsnya, disebutkan demikian : The study or use of electronic equipment, especially computers, for storing, analysing and sending out information. (URL: http://www.oup.com/elt/oald/)
Dengan demikian, TI meliputi unsur-unsur : "storing", "analysing", "sending out" suatu informasi. Kalau diurai lagi, masing-masing unsur akan bercabang ke puluhan fields, baik yang berkaitan dengan hardware maupun software, seperti electronic circuit, electromagnetic wave, database, datamining, pattern recognition, signal processing, telecommunication, security, information theory, compiler, data structure & algorithm, software engineering, dsb. Kalau kita tanya lagi "informasi apa yang diolah", akan berakar ke cabang keilmuan seperti : image processing, bioinformatics, neuroinformatics, biometrics, computer vision, computer graphics, dsb. Tidak mudah bagi saya untuk membuat batasan aspek-aspek dalam TI.
Ilmu pengetahuan bersifat dinamis, tidak statis, menyesuaikan dengan needs dan interest industri dan akademis dari masa ke masa. Cara termudah melihat perkembangan suatu bidang adalah dengan mencermati tema-tema yang dipresentasikan di international conference dan journal. Misalnya untuk bidang TI, tahun depan di Las Vegas akan diselenggarakan Int'l Conference on Information Technology (http://www.itcc.info/). Di CFP-nya, saya lihat topics of interest meliputi : Information Retrieval, Operating Systems, Networks, Image/Video Processing, Digital Library, Coding & Data Compression, Watermarking, Simulation, Computer Graphics, Information Technology: Education, Curriculum & Accreditation, Information/Website Security, Data Mining dsb. Tema-tema ini mencerminkan interest penelitian pada masa kini. Beberapa di antara tema tsb. sudah ada sejak puluhan tahun yll. seperti image processing, data comprssion. Beberapa di antaranya baru muncul atau populer akhir-akhir ini seperti datamining, bioinformatics, dsb.
Contoh lain adalah munculnya journal-journal baru IEEE. Tahun ini computer society IEEE menerbitkan journal baru : IEEE/ACM trans. on Computational Biology and Bioinformatics. Ini dikarenakan perkembangan yang pesat di bidang bioinformatika dan keterbatasan kesempatan publikasi pada journal yang ada. Sehingga diperlukan media baru untuk mendokumentasikan ide dan temuan yang berkembang dewasa ini.
Ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa berkembang. Definisi dan aspek-aspek di dalamnya tidak pernah statis, melainkan dinamis, mengikuti perkembangan peradaban manusia.
Salah satu point yang dipermasalahkan oleh Bernaridho adalah sebutan "pakar TI". Menurut artikel tsb., syarat seseorang disebut pakar adalah penguasaan aspek TI, baik software maupun hardware. Selama di Jepang, saya tidak pernah mendengar seorang professor disebut "pakar TI". Yang sering saya dengar adalah professor Iwata adalah peneliti di bidang neural networks, professor Usui adalah peneliti di bidang neuroinformatics, professor Toriwaki adalah salah seorang pioneer (sering juga disebut daiichinin sha = number one) di bidang medical imaging, tapi tidak pernah saya dengar seseorang disebut pakar TI. Bagi saya sulit untuk membayangkan keahlian apa saja yang dimiliki oleh seseorang bila disebut pakar TI. Ada satu yang masih belum jelas bagi saya : Bernaridho memakai kata-kata : "penguasaan". Bagaimana definisinya secara kuantitatif, seorang disebut "menguasai" ? Mungkin ini dikarenakan saya terbiasa dengan hitungan gyouseki/prestasi capaian di dunia akademik. Di kampus saya, journal dihitung 1 point, peer-reviewed international conference dihitung 0.5 point, kalau tanpa review, tidak akan dihitung. Biasanya publikasi di computer science rata-rata 8 halaman. Kalau kurang dari 4 halaman, tidak akan dihitung.
Dalam syarat pengajuan degree, kontribusi kandidat doktoral dihitung dengan cara tsb. di atas. Misalnya dulu saya disyaratkan memiliki minimal 1 journal dan beberapa international conference publication. Sedangkan rekan saya yang di jurusan biotek, disyaratkan 3 journal. Beda jurusan beda syaratnya. Dalam satu jurusan kadang juga berbeda syarat, tergantung professornya. Ada juga rekan yang tidak memiliki publikasi journal, tapi kontribusi ybs. diakui dari beberapa publikasinya pada international conference. Prinsipnya, menurut aturan monbukagakusho (P&K Jepang) kriteria seorang lulus S3 adalah kemampuan untuk melakukan riset secara mandiri. Sedangkan publikasi di atas adalah "bukti"-nya.
Kembali pada kalimat Bernaridho, saya kesulitan untuk memahami pada kata "menguasai". Bagaimana kita mengukur kontribusi seseorang pada suatu bidang agar disebut "menguasai". Kriteria apa yang digunakan ? Apakah jumlah publikasi, atau pengaruh dari publikasinya yang diukur dari citation rate, ataukah dalam bentuk pengakuan dari organisasi resmi, seperti Fellow Membership dari IEEE, IEICE, dsb. ? Saya cenderung pada pilihan terakhir, yaitu "fellow" yang diberikan oleh society ilmiah tsb. karena kontribusi ybs. diakui secara resmi oleh lembaga yang berkompeten. Tapi kalau dicermati, fellow IEEE tidak ada yang menyebutkan kontribusi ybs. di bidang "information technology". Melainkan pada cabang dari IT, misalnya "contributions to machine learning, pattern recognition, and data compression." CMIIW
Yang pasti untuk menjadi pakar dalam suatu bidang tidak harus berangkat dari jurusan yang mengasah bidang tsb. Seorang pakar software engineering tidak harus memiliki latar belakang pendidikan informatika. Penelitian bersifat universal dan boleh dilakukan siapa saja. Pengakuan akan kontribusi seseorang ditentukan bukan berdasarkan latar belakang pendidikannya, melainkan kontribusinya. Saya lihat tokoh-tokoh di bidang neural networks, tidak selalu berasal dari jurusan elektro atau komputer. Professor Sunichi Amari (tokoh terkemuka neural network society, presiden IEICE) berasal dari jurusan fisika. Professor Toriwaki dulu background penelitiannya saat S2 melakukan penelitian di bidang character recognition. Baru pada saat S3 melakukan penelitian medical imaging, dan mulai saat itu dikenal sebagai tokoh Jepang di bidang tsb. dan sering kamii sejajarkan dengan Rosenfeld. David Goldberg dikenal sebagai tokoh besar di bidang evolutionary computing, dan buku dan karyanya tentang GA mendapat pujian dari John Holland, yang semula skeptis terhadap potensi Goldberg. Padahal Goldberg adalah lulusan Teknik Sipil. Bukunya Genetic Algorithms in Search, Optimization and Machine Learning (Addison-Wesley, 1989) adalah buku dengan frekuensi citation no.4 di bidang computer science.
(http://www-illigal.ge.uiuc.edu/goldberg/d-goldberg.html#biography)
Tidak mengapa seseorang berlatar belakang pendidikan sosial, bahasa, antropologi melakukan penelitian atau mengemukakan pendapat mengenai teknik, vice versa. Yang penting, mari kita cermati dengan objektif, apakah argumen ybs. dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah ? Kalau toh salah, mari kita diskusikan dengan kepala dingin, karena kita semua pada hakekatnya sedang belajar. Dan seringkali kesalahan dan kegagalan yang kita perbuat adalah batu loncatan untuk menggapai kemajuan.


<< Home