Kenangan Nagoya : 1991, 1995, 2000, 2005
1991
- Sehari-hari
- 1 yen sekitar 11 rupiah
- consumption tax (shouhizei) : 3%
- Baito yang populer adalah mengajar bahasa Indonesia. Baito cuci piring belum populer
- Tiket pulang (Garuda) ke Indonesia masih mahal, belum ada tiket PPI.
- Mencari bahan makan Indonesia masih sangat susah. Sun Lemon baru ada sekitar tahun 93 atau 94.
- Sebulan sekali terima kliping berita tanah air dari KBRI. Hanya itu satu-satunya berita tentang tanah air yang bisa diperoleh di Jepang. Saat masih tinggal di Tokyo, kalau ingin membaca majalah Tempo, pergi ke Asian Bunka Senta
- Kartu telpon yang dijual nilainya 500 yen, 1000 yen, 3000 yen dan 5000 yen
- Telpon ke Indonesia selama 30 menit sekitar 5000 yen
- Kalau mau pasang telpon di rumah paling murah lewat seikyo (sekitar 70 ribu yen !). Kalau pesan langsung lewat NTT langsung lebih mahal.
- Restoran Indonesia di Nagoya hanya 1 : Kemala (Imaike)
- Kalau naik chikatetsu, tiket tidak dimasukkan ke jidokaisatsu (ticket barrier/wicket), tetapi dikasihkan ke petugas untuk dicap (atau dilubangi ya ? lupa)
- Sampah (gomi) hanya dibagi 3 : terbakar, tak terbakar dan besar (sodaigomi). Tiap bulan sekali ada jadwal pembuangan barang-barang besar (almari es, sepeda, sofa, dsb.). Saat itu pembuangan sodai gomi masih free of charge. Kami sering berburu sodai gomi. Kalau untung, bisa dapat TV, wordprocessor, almari es, sofa bed, yang masih bagus. PPI sempat diplesetkan jadi Persatuan Pemulung Indonesia :D
- PPI
- anggota PPI Nagoya hampir 100, kebanyakan mahasiswa kiriman program OFP, STMDP dan STAID. Selain Nagoya, mahasiswa Indonesia di Jepang Tengah masih sedikit. PPI Korda Jepang Tengah = PPI Nagoya.
- Festival malam Indonesia diselenggarakan tiap tahun, di International Center dan Kokaido Tsurumai
- Rapat PPI dan seminar sering dilakukan di Minato-ku kaikan. Undangan dalam bentuk tercetak, dikirim per pos. Tiap pertemuan ditarik iuran sekitar 500 yen, untuk ganti ongkos makan dsb.
- KMI
- Pengajian KMI biasanya diselenggarakan hari Minggu, ba'da Maghrib, selesai jam 8 malam. Tempat berpindah dari rumah satu rekan ke yang lain.
- Masjid belum ada. Sebagai gantinya menyewa apato di belakang meidai, untuk sholat Jumat dll. Sholat Ied pernah dilakukan di lobby international residence. Patung-patung yang ada di ruangan tsb. saat itu ditutup dengan kain. :-)
1995
- Sehari-hari
- 1 yen : sekitar 20 rupiah
- consumption tax (shouhizei) : 3%
- Mulai banyak rekan-rekan yg pakai beasiswa sendiri, sehingga bursa baito pun mulai ramai
- Bahan makan Indonesia sudah lebih mudah diperoleh. Sun Lemon mulai populer. Alternatif lain adalah mengkoordinir pemesanan kecap, indomie, dsb. ke Pak Lemana Kobe. Anto jualan indomie.
- Beberapa rekan meikodai langganan tempo dari Indonesia, dan ditaruh di perpustakaan meikodai.
- Kartu telpon yang dijual nilainya 500, 1000 dan 3000 yen. Kartu palsu mulai populer.
- Yang terkenal jualan kartu palsu ini adalah orang Iran, di sekitar Nagoya eki dan Sakae
- Keitai denwa mulai muncul, tapi baru level sensei saja yang punya
- Pentium I muncul
- Laptop dengan layar berwarna mulai muncul di pasaran
- Restoran Indonesia di Nagoya ada dua : Kemala (Imaike) dan Bagus (Sakae)
- Chikatetsu Sakura dori line mulai jalan
- Jido kaisatsu sudah populer
- Di pojok motoyama masih ada Pizza Hut. Dulu sering karaoke-an di do-re-mi-fa dekat perempatan motoyama
- GSID Nagoya University berdiri. Beberapa tokoh Indonesia jadi dosen tamu di Meidai a.l. Abdurrahman Suryomiharjo alm., Yahya Muhaimin, Ibrahim Alfian, dsb.
- Sehari-hari